Prof. Budi Frensidy: Klub Korporasi Bernilai US$ 1 Triliun

Klub Korporasi Bernilai US$ 1 Triliun

Oleh: Prof. Dr. Budi Frensidy – Ketua Senat Akademik FEB UI

KONTAN – (13/5/2024) Sejak ahli statistik memperkenalkan ukuran untuk output nasional pada tahun 1930-an, ekonom sepakat mengacu pada produk domestik bruto (PDB) untuk mengukur kebesaran sebuah negara. PDB menggambarkan total nilai barang dan jasa wilayah sebuah negara dalam satu tahun.

Angka inilah yang digunakan untuk keanggotaan G20 alias 20 negara terbesar dunia, dengan pengecualian dua negara tetap dimasukkan tanpa melihat PDB-nya, yaitu Afrika Selatan dan Argentina. Indonesia masuk dalam kelompok bergengsi ini, karena berada di rangking 16 dunia sejak belasan tahun lalu.

Kebanggaan lain, sejak tahun 2017, Indonesia masuk sebagai negara ke-16 kelompok negara ber-PDB US$ 1 triliun. Agar bisa masuk dalam klub elit ini, sebuah negara harus memiliki PDB minimal US$ 1 triliun.

Amerika Serikat (AS) sebagai yang pertama di tahun 1969, Jepang tahun 1979, Jerman di 1987, Perancis tahun 1988, Inggris di 1989, Italia tahun 1990 dan delapan negara besar lain antara tahun 1998 hingga 2007.

Kemudian Australia di tahun 2008 dan Indonesia tahun 2017. Tiga negara lain bergabung setelah Indonesia, yaitu Belanda (2021), Arab Saudi (2022), dan terakhir Turki (2023). Itulah 19 negara terbesar di dunia saat ini berdasarkan PDB.

Jika ukuran besar ekonomi sebuah negara adalah PDB, kita punya kapitalisasi pasar untuk mengukur besar sebuah korporasi. Jika negara dengan PDB triliunan dolar AS hanya ada belasan, apalagi korporasi.

Namun, sejarah tercipta saat Apple yang didirikan mendiang Steve Jobs, pada 1 April 1976 menjadi perusahaan pertama yang  bernilai US$ 1 triliun pada 2 Agustus 2018.

Jobs memimpin Apple hingga 1985, ketika dia diberhentikan oleh Chief Executive Officer (CEO) John Scully, akibat anjoknya penjualan. Padahal Jobs yang mempekerjakan dia dua tahun sebelumnya. Pemberhentian Jobs ini disetujui secara aklamasi seluruh direksi saat itu.

Pada periode keterpurukannya, saham Apple pernah hanya dihargai US$ 0,04. Ini setelah memperhitungkan stock split, pada 8 Juli 1982.

Dari tanggal itu hingga saat ini saham Apple telah mengalami stock split lima kali, yaitu 2:1 di 1987, 2000, dan 2005. Kemudian 7:1 di 2014 dan 4:1 di 2020. Ini berarti telah terjadi stock split 224 for 1 selama 1987-2020.

Ditinggalkan Jobs di September 1985, Apple tidak menjadi lebih baik. Di tahun 1990 hingga 1996 penjualan terus menurun dan produk-produknya banyak yang gagal, hingga Apple hampir bangkrut. Beberapa pekan mendekati kebangkrutannya dengan harga saham serendah US$ 0,12, direksi Apple membeli NeXT milik Jobs dan menariknya menjadi penasihat Apple pada 9 Februari 1997. Beberapa bulan kemudian, Jobs sebagai CEO lagi.

Dia langsung membatalkan 70% model dan proyek yang ada, memberhentikan 3.000 pekerja, dan meyakinkan Microsoft berinvestasi US$ 150 juta di Apple.

Di tahun pertama sebagai CEO itu, Jobs mampu membawa Apple meraih keuntungan US$ 309 juta. Selama 1997-2006 harga saham Apple melonjak lebih dari 16 kali lipat. Kenaikannya semakin tak terbendung ketika Apple meluncurkan iPhone di tahun 2007, terjual 270.000 unit hanya dalam 30 jam pertama. Sejak model pertama itu hingga awal bulan lalu, Apple telah menjual 2,3 miliar iPhone. Saat Jobs mundur dan meninggal di 2011, Apple bernilai US$ 350 miliar.

Sebulan setelah Apple bernilai US$ 1  triliun, Amazon mengikuti jejaknya pada 4 September 2018. Kemudian Microsoft pada 25 April 2019, Saudi Aramco 11 Desember 2019), Alphabet (Google) di 16 Januari 2020, Meta (Facebook) di 28 Juni 2021, Tesla di 25 Oktober 2021 dan Nvidia 30 Mei 2023. Inilah 8 emiten penghuni klub US$ 1 triliun.

Kompetisi menjadi lebih seru ketika Saudi Aramco pada 12 Desember 2019 menembus nilai US$ 2 triliun saat harga sahamnya naik belasan persen dalam dua hari melantai di bursa. Apple menyusul di 19 Agustus 2020, Microsoft di 22 Juni 2021, Alphabet pada 8 November 2021, dan Nvidia di 23 Februari 2024.

Persaingan masih belum selesai. Pada 3 Januari 2022 Apple kembali menjadi jawara dengan US$ 3 triliun, saat kapitalisasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) hanya Rp8.470 triliun atau cuma setara US$ 594 miliar atau seperlimanya Apple.

Hanya Microsoft mengikuti Apple di 24 Januari 2024, bahkan menyalip, menjadi jawara di pekan ini dengan US$ 3,08 triliun. Angka ini setara dengan PDB negara ketujuh terbesar dunia, yaitu Perancis dan lebih dari dua kali PDB kita. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya nilai sebuah korporasi melampaui PDB sebuah negara besar. Kecuali Saudi Aramco, semua korporasi di atas itu emiten teknologi.

Sejatinya, emiten pertama yang sempat bernilai US$ 1 triliun adalah PetroChina pada 5 November 2007 ketika harga minyak naik drastis. Namun, tidak bertahan lama. Harga sahamnya turun mengikuti harga minyak dunia dan kini kapitalisasinya di US$ 244 miliar.

Bagaimana emiten terbesar Asia dan Asia Tenggara serta kiprah korporasi Indonesia? Di bawah Saudi Aramco, nilai sembilan emiten terbesar Asia lain antara US$ 630 miliar (Taiwan Semiconductor) hingga US$ 206 miliar (Agricultural Bank of China). Tujuh emiten lain, tiga dari China serta satu dari Hong Kong, Jepang, Korea Selatan, dan India. Tidak ada emiten Asia Tenggara masuk 10 terbesar Asia.

Di Asia Tenggara, tujuh emiten kita masuk 10 besar yaitu BREN dengan US$ 81 miliar di peringkat pertama, BBCA dengan US$ 72 miliar (3), AMMN (5), BBRI (6), TPIA (7),  BYAN (8), dan BMRI (10). Tiga lain dari Singapura.

Kesimpulannya, ada 19 negara besar dan 8 emiten raksasa, didominasi korporasi teknologi, dalam klub US$ 1 triliun. Berbeda dengan tren dunia, penguasa dan juara di bursa kita adalah emiten energi terbarukan, bank, dan tambang. Apa kabar saham teknologi di BEI?

Sumber: Koran Kontan. Edisi: Senin, 13 Mei 2024. Rubrik Wake Up Call. Halaman 4.

Sumber: https://feb.ui.ac.id/2024/05/15/budi-frensidy-klub-korporasi-bernilai-us-1-triliun/